Zahra
Zahra Nadia Sholiha, S.Pd.
Putri Pertama dari
Bapak Sujarwo, S.I.P. & Ibu Sri Hartini
Fadhli
Fadhli Darmawan, S.Pd.
Putra Ketiga dari
Alm. Bapak D. Mawardi
& Ibu Sakilah, S.Pd.I
Temui kami secara virtual untuk menyaksikan acara pernikahan kami melalui tautan di bawah ini:
16 Maret 2024
Awal Keyakinan
Setelah Istikharah berkali-kali diiringi doa yang tak putus-putus, akhirnya Ia memutuskan untuk datang dengan niat yang tulus, menyampaikan maksud dan tujuan dengan serius. Namun bagiku, waktu itu belum saatnya untuk separuhku disempurnakan. Sebab, masih ada amanah dan perjalanan akademik yang harus diselesaikan. Tak ada penerimaan ataupun penolakan. Proses itu berhenti tanpa ada sedikitpun secercah harapan.
Ia pun tergantung dalam masa yang tak pasti, menyelami waktu tanpa kejelasan yang presisi, lalu memilih menunggu dalam diam yang sunyi. Hari-hari berlalu, dan tanpa sengaja kami kerap dipertemukan dalam ruang dan waktu yang sama — urusan profesi, kegiatan, atau sekadar kebetulan yang terlalu sering untuk disebut kebetulan sebenarnya.
Februari 2024 & Februari 2025
Dua Utopia di Tanah Suci
Setahun sebelumnya, di Tanah Suci, Ia bermimpi dua kali — bersilaturahmi ke rumahku, lalu bertemu denganku, orang tua, dan adikku, padahal pada saat itu Ia belum pernah sama sekali bertemu dengan keluargaku. Dan mimpi yang kedua, dengan langkah yakin didampingi oleh Ustadznya, Ia menjemputku yang sedang mengenakan gaun putih di persimpangan jalan dengan sebuah mobil sederhana.
Mimpi itu menjadi fase awal Allah menghadirkan untuknya seutas rasa. Bukan perasaan yang datang tiba-tiba, melainkan amanah suci yang harus dijaga.
Setahun kemudian, di tempat yang sama, aku pun bermimpi. Dalam mimpiku ada bahtera besar, dan aku berada di perahu kecil di ujungnya. Ia hadir disana, membantuku menyebrang menuju bahtera besar itu.
17 Maret 2025
Saat Keyakinan Itu Kembali
Setelah genap satu masa yang terpending, kukira ia akan mencari sosok lain tuk diajak bersanding. Namun ternyata, ia kembali datang dengan ketenangan yang berbeda. Tak ada lagi cemas yang melanda, kini hanya keteguhan yang lahir dari do’a dan penantian untuk menuntaskan niat tulus yang sempat tertunda.
Mungkin memang begitulah cara Allah yang syahdu tuk mempertemukan dua rasa yang sama; ketika waktu dan keyakinan akhirnya berpadu dalam garis takdir yang seirama.
17 Mei 2025
Pertemuan dalam Nadzhor
Dalam pertemuan itu, semua tanda yang dulu samar terasa begitu nyata. Dengan didampingi oleh Ustadz Ahmad Yusuf, Ia bercerita walau sedikit terbata-bata tentang visi misi, kepribadian, dan perjalanan pencarian separuh agamanya, serta kami pun saling melontarkan tanda tanya. Di sanalah potongan-potongan kisah yang semula terpisah mulai menyatu dan lebih terarah.
Saat aku tahu bahwa ia juga pernah bermimpi tentangku di Mekkah, aku terdiam. Ternyata kami pernah bersua di utopia, terpaut dua masa yang berbeda. Utopianya menuntunnya datang, utopiaku menuntunku mengiyakan. Apa yang pernah hadir di utopia kini menjelma nyata, dengan tenang, tanpa terburu, seolah segala sesuatu telah diatur tepat pada waktunya.
19 Oktober 2025
Khitbah
Setelah banyak do’a, tanda, dan keyakinan yang tumbuh perlahan, logika dan rasa akhirnya bertaut dalam keberanian. Kali ini bukan sekadar niat yang digaungkan, tapi ia benar-benar datang dengan kesungguhan untuk menjemput takdir yang telah lama Allah tuliskan.
Menyambut jawaban dari do’a terpasrah yang pernah mengangkasa dengan balutan iman terindah yang dihiasi oleh kesabaran tanpa jeda.
23 November 2025
Dua Masa yang Bertaut
Terakhir, terima kasih banyak kepada guru kami Al Ustadz Ahmad Yusuf yang begitu sabar dan sangat amanah dalam mengawal proses rumit ini supaya tetap memuat berkah yang berlimpah. Alhamdulillah, endingnya Allah izinkan kami tuk bisa bersama-sama merekah dengan alur cerita dan pasang surutnya yang amat indah.
Dari dua utopia yang terpaut dimensi waktu, dua perjalanan panjang akhirnya akan bermuara dan bersatu. Apa yang dulu hanya hadir dalam mimpi, tak lama lagi kan menjadi nyata dalam ikatan suci yang Allah ridhai. Dua masa yang berbeda, kini menyatu dalam satu bahtera untuk berlayar bersama hingga Jannah-Nya. Insya Allah.