LOVE STORY
Kisah kami berawal dari dua orang yang tidak saling mengenal dan dimulai di kampus Timur Jawa Dwipa prodi Manajemen. Kantin, ruang baca, perpustakaan, lift, bahkan kami juga pernah berpapasan di lorong saat akan memulai mata kuliah. Kami hanya terpisah dengan bangku yang diduduki teman-teman namun di ruangan yang sama.
Anehnya, garis takdir seolah menyembunyikan kami satu sama lain. Kami saling mengetahui wajah dan nama masing-masing, tetapi tidak pernah bertegur sapa atau hanya sekedar mengobrol ringan sambil menunggu kelas dimulai. Dulu kami hanya dua orang asing yang tanpa pernah menduga bahwa Allah sedang merancang sesuatu yang lebih indah di masa depan untuk kami berdua.
Waktu terus berlalu, Yosecha lulus lebih dulu dan disusul dengan Shania. 4 tahun hingga 7 tahun sejak 2017 terlewati, hingga kami menemukan jalan masing-masing untuk berkarir walaupun akhirnya sama-sama bekerja di bidang perbankan dengan tugas pekerjaan yang sama. Kompleksitas dan tuntutan pekerjaan membuat hari-hari yang kami lalui terasa berat dan sangat melelahkan.
Sampai akhirnya suatu momen kecil yang tidak terduga menjadi awal kisah kedekatan kami. Sebuah story yang dibalas Yosecha tanpa rencana di instagram Shania dengan balasan yang singkat tumbuh menjadi obrolan yang panjang. Obrolan panjang itu kemudian menjadi kedekatan yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Kami mulai saling bertukar cerita, saling tertawa, saling melampiaskan emosi, saling memahami, seolah segala yang dulu tak pernah terjalin kini menyatu begitu mudah.
Dari percakapan singkat di dunia maya, tumbuhlah rasa yang kian nyata. Kami menyadari bahwa jarak adalah sebuah tantangan, bukan menjadi penghalang, dan waktu bukanlah menjadi musuh kami. Yosecha di Muara Bungo (Jambi) dan Shania di Jakarta dengan jarak +/- 1.021 km, bahkan kami sempat terpisah Muara Bungo-Jember (+/- 1.972 km). Justru dari keterbatasan tersebut muncul kesungguhan dan keseriusan dari Yosecha untuk mengajak Shania menjadi teman hidup selama-lamanya.
Kini kami menjalani hubungan yang lebih serius, lebih matang, dan lebih yakin untuk melangkah kedepan. Kami percaya bahwa Allah sengaja mempertemukan tanpa mendekatkan. Jika tiba waktunya, hati kami bisa siap untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain, serta dapat mencintai dengan cara yang lebih dewasa.