وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Adalah bangku perkuliahan yang mempertemukan tanpa rencana dan tujuan. Yang berawal katanya hanya teman, ternyata kami berakhir saling menaruh perasaan. Dimulai dari situ, segalanya berjalan mengiringi kami berproses, berhubungan dan bertumbuh bersama setiap harinya.
Butuh 7 tahun atau 2555 hari kemudian. Butuh waktu selama itu untuk belajar banyak soal ‘penerimaan’ atas beragam kejadian.
Sampai satu lingkar kecil akhirnya tersemat resmi di jari manis kiri kami. Yang di dalamnya ada harapan, ada impian dan ada doa restu dari banyak hati.
Hari akad nikah. Hari dimana ketika semua bisa tersenyum. Ada lega juga haru. Ada tawa juga sendu. Karena pada hari merayakan perjalanan ini, bukan hanya kami berdua yang bahagia. Tapi juga mereka ; dua keluarga yang sama-sama percaya untuk menyertakan doa terbaik bagi kami sebagai pendamping dan penolong satu sama lain selamanya.
