LOVE STORY
Awal Perkenalan
Lucu sih kalau diingat-ingat. Tanggal 10 November 2024, Ester yang duluan mengirim DM ke Richard. Niatnya cuma ingin kenalan saja, nggak ada pikiran macam-macam. Iseng, coba-coba. Tapi ternyata dari satu pesan kecil itu, obrolan nyambung terus. Dari yang cuma cari teman ngobrol, lama-lama jadi nggak bisa sehari tanpa chat. Siapa sangka, coba-coba ternyata jadi beneran.
Komunikasi Intens
dan Pertemuan Pertama
Obrolan kami makin dalam, dan Richard ngajak Ester ketemu, tapi bukan buat nongkrong, melainkan ikut ibadah komsel bareng. Jujur, waktu itu Ester agak deg-degan. Tapi pas ketemu langsung, suasananya adem banget. Kami ngobrol, duduk bareng di tengah pujian dan doa, semuanya terasa ringan, tapi dalam. Momen itu tidak terduga, dan sejak saat itu Ester merasa ada sesuatu yang berbeda. Rasanya tenang, seperti ada arah baru yang sedang dibuka.
Langkah Menuju Keseriusan
Belum juga ada momen "jadian", Richard justru langsung menyampaikan keinginan untuk membawa hubungan ini ke arah yang serius. Ester sempat mikir, ini orang serius apa buru- buru ya? Tapi cara Richard ngomong, dan alasannya—karena ingin hubungan yang jelas dan terarah—membuat Ester justru merasa dihargai. Dan yang paling bikin terkesan, semuanya terasa tulus, meskipun jalurnya nggak seperti kisah cinta pada umumnya.
Lamaran
Dua bulan setelah pertama kali berkenalan, Richard bersama keluarganya melamar Ester secara resmi, tepat pada 15 Januari 2025. Kedua orang tua bertemu, saling mendukung, dan memberi restu penuh dengan sukacita. Banyak senyum, tawa, dan doa yang mengiringi hari itu. Rasanya seperti adegan manis di akhir film, tapi ini baru permulaan.
Persiapan Pernikahan
Persiapan menuju pernikahan kami jalani dengan santai tapi pasti. Tapi ya, namanya juga dua pribadi berbeda yang mau hidup bersama, drama nggak bisa dihindari. Mulai dari beda pendapat soal intimate wedding sampai hal receh kayak bentuk kursi pelaminan. Hampir tiap hari ada aja yang bikin tegang. Tapi di tengah semua itu, kami tetap bersyukur. Semua terasa mimpi, capek, iya. Tapi bahagia juga iya. Dan yang paling penting, kami sadar bahwa kami nggak jalan sendiri. Tuhan yang mempertemukan kami, juga yang menguatkan dan membuka jalan di setiap prosesnya.
Hari H
Akhirnya, hari yang kami nantikan — 6 September 2025. Kami memilih tanggal itu bukan asal pilih. Karena Ester lahir di bulan September, jadi kami memilih bulan itu. Juga keinginan Ester yang ingin menikah di usia 27 tahun. Jadi, pernikahan harus sebelum ulang tahunnya. Pas banget, tanggal 5 itu tanggal merah, jadi kami pikir, kenapa nggak tanggal 6 aja? Biar keluarga dari pihak Ester nggak perlu ambil cuti panjang untuk datang ke Singkawang. Sederhana sih alasannya, tapi terasa pas dan penuh makna. Hari itu jadi momen yang sangat kami tunggu-tunggu. Harapan kami cuma satu: kiranya Tuhan melancarkan semuanya, menjaga setiap detailnya, dan seperti janji-Nya—membuat segalanya indah pada waktunya.